Sabtu, 14 Januari 2012

FILSAFAT Mulla Sadra (979 H - 1050 H)

Sekilas tentang Mullasadra
Ayah Mulla Sadra –Khajah Ibrahim Qiwami– seorang negarawan yang cerdas dan mukmin serta memiliki kekayaan yang melimpah dan kedudukannya yang mulia lagi terhormat, namun setelah menunggu bertahun-tahun ia baru dianugerahkan seorang putra yang diberi nama Muhammad (Sadruddin) dan sehari-hari dipanggil Sadra, setelah dia dewasa kemudian digelari mulla yang berarti ilmuwan besar lalu digabungkan dengan nama kecilnya menjadi Mulla Sadra.
Ia lahir di Syiraz di mana ia menerima pendidikan awal. Ia pergi ke Isfahan untuk menyelesaikan studi ilmu-ilmu intelektual. Di Isfahan, yang kemudian menjadi pusat pembelajaran, Sadra mempelajari ilmu-ilmu al-'Ulum al-naqliyyah sebagai tafsir Al-Qur'an dan yurisprudensi (fiqh) dengan Baha' al-Din Muhammad al-Amili ( 1031/1622). Amili, juga dikenal seorang filusuf, teolog, ahli hukum, matematikawan, arsitek, dan penyair.
Di bidang ilmu-ilmu intelektual (al-'Ulum al-'aqliyyah), Sadra belajar bersama Sayyid Muhammad Baqir Astarabadi, yang dikenal sebagai Mir Damad (1040/1631). Mulla Sadra menggabungkan prinsip-prinsip filsafat Avicennan dengan doktrin-doktrin sekolah Pencerahan (isyraq), didirikan oleh Shihab al-Din Suhrawardi. Sadra memiliki hubungan dekat dengan Mir Damad. Di antara guru Sadra, Abu'l-Qasim Mir Findiriski (sekitar 1050/1640), yang adalah seorang filusuf yang bergerak dan seorang pertapa sufi, dan telah melakukan perjalanan ke India beberapa kali. Itu berada di bawah perlindungan intelektual angka-angka ini bahwa Sadra mengembangkan ide dan memberi salah satu contoh yang paling penting dari kesatuan yang ditransmisikan dan ilmu-ilmu intelektual dalam Islam.
Setelah menyelesaikan pendidikan formal di Isfahan, Sadra dihadapkan dengan perlawanan sengit dari beberapa Akhbari di Isfahan, dikenal dengan literalisme ketat. Sejalan dengan kecenderungan disiplin rohani, Sadra menahan diri dari kehidupan publik dengan menarik diri ke sebuah desa kecil bernama Kahak, dekat Qom di mana ia menyelesaikan dasar untuk komposisi karya utamanya. Setelah masa baik, Sadra kembali ke Syiraz untuk mengajar di madrasah Khan bangunan yang masih ada hari ini. Dalam kehidupan pribadinya, Sadra menjalani kehidupan seorang pertapa, dan meninggal di Basra dalam perjalanan pulang dari ziarah ketujuh ke Mekkah dengan berjalan kaki.
Di antara karya Mullasadra adalah Al-Hikmat al-muta'Aliyah fi Al-asfar Al-Aqliyah al-arba'ah yang dikenal secara sederhana sebagai Asfar, dapat dibaca sebagai filsafat klasik bebas dikurangi bagian logika. al-Shawahid al-rububiyyah adalah perawatan yang ketat dari beberapa pertanyaan yang paling sulit filsafat tradisional. Kitab al-Masha'ir, sebuah pekerjaan yang sudah diselesaikan menjelang akhir hidupnya, adalah ringkasan Sadra sendiri dari sistem filsafat, yang ia panggil 'kebijaksanaan transenden' (al-hikmat al-muta'aliyah). al-Hikmat al-'arshiyyah adalah yang paling penting. Sadra bekerja pada eskatologi. Sadra sangat tertarik dalam eskatologi dan menulis sejumlah risalah tentang masalah, di antaranya Al-Hasyr Risdlat.
Pemikiran Mullasadra
Di antara usaha yang dilakukan Mulla Shadra adalah menjelaskan pembahasan filsafat, yang merupakan suatu bentuk pelajaran penalaran dan pemikiran, disusun secara sistematis, sehingga menyerupai kaum arif / sufi dalam menjelaskan masalah perjalanan rohani dan hati, dimana dipercayai bahwa seorang pengembara rohani (salik) harus menempuh perjalanan & pengembaraan rohani diantara 4 tahapannya, yakni sebagai berikut :
Perjalanan dari makhluk ‘MENUJU’ Al-Haq (kebenaran)/ Tuhan (sayr min al-khalq ila Al-Haq) Pada tahap ini, pengembara rohani / spiritual berusaha untuk melewati dan meninggalkan alam realitas dan sebagian alam metafisika, sehingga mampu berjumpa dengan Al-Haq dan tidak ada lagi tirai pembatas.
2. Perjalanan dengan Al-Haq ‘DALAM’ Al-Haq / Tuhan (sayr bi Al-Haq fi Al-Haq)
Setelah pengembara spiritual dekat dengan zat Al-Haq, maka dengan bantuan-Nya ia mengadakan perjalanan dalam berbagai kesempurnaan dan sifat-sifat-Nya.
Perjalanan ‘DARI’ dan dengan Al-Haq / Tuhan menuju makhluk (sayr min Al-Haq ila al khalq bi Al-Haq) Sang Pengembara spiritual kembali ke tengah masyarakat, namun kembalinya ini bukan berarti berpisah dari Al-Haq, ia menyaksikan keberadaan Al-Haq pada segala sesuatu dan bersama segala sesuatu.
4. Perjalanan dalam makhluk ‘DENGAN’ Al-Haq / Tuhan (sayr fi al khalq bi Al-Haq)
Sang Pengembara spiritual berusaha untuk memberi petunjuk kepada masyarakat serta membimbing mereka kepada Al-Haq.
Mulla Sadra berdiri di persimpangan empat perspektif intelektual utama dalam Islam, yaitu Illuminationist (isyraq) yang didirikan oleh Surawardi, paripatetik (massya'i) terutama yang diwakili oleh Ibnu Sina, dan Nasir al-Din Tusi, dan gnostik ( ' irfan) sekolah Ibn Arabi dengan anggota terkemuka seperti Sadr al-Din al-Qunawi dan Dawud al-Qaysari, dan teologi Islam (kalam). Suhrawardi berpendapat bahwa halangan dalam perjalanan untuk menyadari pengetahuan adalah ketegangan antara murni teoritis, diskursif dan berpikir analitis dan metafisik / pengetahuan intuitif.


Hikmah Muta’aliyah
Dalam filsafat Mullasadra empat aliran berfikir aliran paripatetik, iluminasi, kalam dan tasawuf tergabung secara sempurna dan melahirkan aliran baru filsafat yang disebut Hikmah Muta’aliyah, aliran filsafat ini walaupun secara metodologi sama dengan empat aliran di atas tapi pemikiran yang dihasilkannya sedikit berbeda. Karenanya aliran filsafat ini dikatakan sebagai aliran yang berdiri sendiri dan sebuah pandangan yang baru.
Dalam kitab Asfar, dia berkata bahwa argumen akal, penyingkapan dan wahyu sejalan satu sama lain dan tidak saling bertentangan, orang yang tidak mengikuti para nabi dan rasul pada dasarnya tidak memeiliki hikmah dan tidak disebut sebagai hakim atau filusuf ilahi. Syariat yang benar tidak mungkin bertentangan dengan akal, karena pada prinsipnya keduanya memilikitujuan yang sama yiatu makrifat Tuhan, sifat dan perbuatan-Nya.
Untuk sampai kepada ke derajat Kasf dan Syuhud maka akal harus dicahayai dengan syariat, karena hakikat-hakikat yang diperoleh lewat argumen akal jika belum menyatu dengan realitas luar maka merupakan hijab untuk mencapai hakikat-hakikat syuhudi dengan bahasa lain kalau akal belum dicahayai oleh syariat maka segala yang dipahami akal dengan ilmu husuli tidak akan pernah mencapai ilmu huduri
Menurut filusuf ini fiqih mengarahkan untuk mengarahkan amal perbuatan manusia, jika perilaku manusia terarah maka kondisi jiwa manusia akan sempurna menerima pancaran-pancaran ilmu dan makrifatnya dari Tuhan. Jadi fiqih merupakan pendahuluan bagi kesempurnaan ilmu dan makrifat manusia.
Aliran filsafat Mulasadra mampu menggabungkan antara doktrin Islam dengan pemikiran filsafat. Al Quran dan Al Hadis dijadikan tumpuan dan sumber ilham untuk menyelesaikan setiap persoalan dan pembahasan yang rumit dalam filsafat. inilah salah satu kelebihan yang tidak dimilki oleh aliran-aliran filsafat lainya. Penggabungan dua unsur tersebut menjadikan karya-karya filsafatnya sebuah kitab tafsir agama dan begitu juga sebaliknya kitab tafsir Al Quran dan hadis bisa dinamakan sebuah kitab filsafat.
Kita kemudian dapat menemukan posisi filsafat Al Hikmah Al Muta’aliyah yang jelas-jelas memunculkan sebuah warna baru diantara filsafat yang ada. Dalam pandangan Mullasadra baik akal maupun Syuhud keduanya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam filsafat dan meyakini bahwa Isyraqi tanpa argumentasi rasional tidaklah memiliki nilai apaun begitu juga sebaliknya.
Melakukan suluk ruhani untuk mencapai ma’rifat dan pencerahan batin bukanlah pekerjaan yang dapat dilakukan setiap orang, karena diperlukan seorang guru yang mampu membimbing salik untuk melewati tahap-tahap perjalanan ruhani dan disitu juga terkandung upaya-upaya setan yang selalu berusaha menjurumuskan para penempuh jalan ruhani tersebut. Tetapi tanpa ma’rifat dan penerahan batin tidak mungkin seseorang akan dapat mencapai puncak kesempurnaan dirinya. Dengan argumentasi-argumentasi rasional Mulasadra telah memberikan pelita bimbingan bagi para ilmuwan dan intelektual untuk dapat memempuh jalan ruhani dalam upaya ma’rifat dan pencerahan batin. Inilah metoda Al Hikmah Al-Muta’aliyah yang dikembangkan Mullasadra.
Mullasadra menunjukkan bahwa kebenaran mistis yang diperoleh berdasarkan perjalanan ruhani merupakan kebenaran intelektual itu sendiri dan pengalaman-pengalaman mistis yang diperoleh merupakan pengalam kognitif yang dihasilkan dari proses berfikir, hanya menurut Sadra yang dibutuhkan adalah upaya ilmiah yang dapat menjadi bukti logis bagi hal tersebut. Mullasadra beranggapan bahwa Musyahadah yang dihasilkan melalui proses Mukasyafah merupakan kebenaran Ilahi dan Hakiki maka pastilah rasional dan akal dapat membuktikanya.
Suhrawardi mengusulkan penyatuan cara berpikir diskursif (bahth), diwakili terutama oleh Peripatetics, dan menyadari atau mencicipi pengetahuan (dhawq) dicontohkan oleh metafisik Sufi ( 'urafa'). Bagi Suhrawardi, filusuf yang ideal atau bijak adalah orang yang menggabungkan pemikiran analitis dan intuitif pengetahuan, yang melaluinya orang mencapai pencerahan (isyraq). Dalam memperoleh pengetahuan, Sadra memasukkan model Suhrawardi dan bahkan mengambil langkah lebih lanjut dengan mengartikulasikan kesatuan wahyu (qur'an), demonstrasi (burhan) dan metafisik atau menyadari pengetahuan ( 'irfan).
Akal dan wahyu ketika masih berada dalam wacana Asy’arian dan Mu’tazilah menjadi dua hal yang selalu berporosan, maka pada Al Hikmah Al Muta’aliyah menjadi sekeping mata uang yang hanya berbeda sisinya. Argumentasi-argumentasi filosofis Mullasadra menjangkau nash-nash tersebut dan memberikanya dalil-dalil rasional. Mullasadra membuktikan bahwa wahyu dan hakikat yang diajarkan para Nabi bukan hanya dapat dibuktikan secara rasional akan tetapi keduanya sama sekali tidak bertentangan sedikitpun. Wahyu dan akal merupakan sebuah kesatuan dari gambaran-gambaran kemanunggalan wujud Tuhan. Akal yang sehat dengan Wahyu yang benar dalam pandangan Muulasadra, keduanya adalah satu warna.
Mullasadra membagi ilmu menjadi dua yaitu ilmu ditransmisikan dan intelektual. Ilmu-ilmu yang ditransmisikan (al-'Ulum al-naqliyyah) terdiri dari disiplin seperti Alquran (tafsir), hadis, dan tata bahasa (nahw), dan metodologi mereka didasarkan pada transmisi dan analisis literal dari teks yang diteliti. Berbeda dengan ilmu-ilmu intelektual, studi ilmu-ilmu yang ditransmisikan tidak memerlukan analisis rasional karena subjeknya tidak dibangun seperti filosofis atau masalah logis meskipun salah satu tentu saja dapat mengembangkan wacana sistematis tentang hal itu.
Studi tentang tata bahasa Arab, misalnya, didasarkan pada kenyataan sederhana bahwa kita belajar dari orang lain, dan tidak ada alasan logis, atau ketiadaan, untuk penggunaan bahasa Arab kata kerja pada awal dan bukan pada akhir kalimat . Satu-satunya sumber yang kita dapat berpaling untuk penjelasan adalah orang-orang yang telah menggunakan bahasa Arab dengan cara ini, dan pembenaran untuk kasus ini adalah dapat ditemukan di tempat lain daripada di subjek-materi itu sendiri.
Sebaliknya, ilmu-ilmu intelektual (al-'Ulum al-naqliyyah) tidak didasarkan pada peniruan (taqlid) atau sekadar transmisi tetapi pada analisis rasional dan intelektual, yang meliputi intuisi metafisik. Pembenaran argumen filosofis tidak berasal dari otoritas menerima teks atau orang tapi dari hal yang meyakinkan dan rasionalitas. Dalam pengertian ini, ilmu-ilmu intelektual membutuhkan usaha intelektual atau tenaga (ijtihad) pada bagian dari filsuf atau sekadar pencari pengetahuan. Ini tidak masuk akal, misalnya, mengutip otoritas seorang guru atau teks untuk membuktikan bahwa dua tambah dua adalah empat.
Dalam arti luas, tujuan metodologis ini menunjukkan perbedaan antara ilmu-ilmu transmisi dan ilmu-ilmu intelektual, adalah untuk menunjukkan sifat saling melengkapi dari kedua jenis dan sumber pengetahuan, yaitu, pengetahuan terkirim oleh Allah melalui buku-buku dan rasul-Nya dan pengetahuan yang diperoleh oleh intelek manusia tanpa bantuan.
Jadi dalam perspektif penulis, hakikat pendidikan Mullasadra adalah aktualisasi dalam memperoleh pengetahuan dari wahyu, akal dengan metode burhani, dan hati dalam metode irfani. Dan tujuan pendidikan adalah untuk memperoleh pengetahuan yang sempurna dengan ketiga metode tersebut

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

RION SAPUTRA © 2008 Template by:
faris vio